Jumat, 13 Maret 2009

BNS

[080308] Hari itu seharusnya aku berada di Jakarta, tapi semuanya gagal karena ada beberapa masalah. Liburan kali ini hanya tinggal di rumah. Mencoba kluar bersama teman jalan2 ke Malang, trus kepikiran untuk maen ke Batu, nyoba tempat rekreasi baru "Batu Night Spectakuler".
Hmm..karna itu hari libur, jalan menuju maen entrance mpe' macet, pdhl parkiran juga udah lumayan sesak. Ternyata besar antusias masyarakat utk datang kesana. Ato emang masyarakat udah pada stress semua mpe' berbondong2 utk wisata. 
Sampek entrance jam 5 sore, bayar tiket Rp. 10.000,- per orang. Tapi situasi dsana dah rame banget. Ada banyak permainan disana, tapi untuk tiap permainan harus bayar lagi. Begitu banyak orang dsana membuat penuh sesak belum lagi antrean yang panjang untuk sekali permainan. 
Malampun mulai datang, dan lampu2 hias mulai menyala dengan kerlap kerlipnya. Ada satu fasilitas yang namanya "Istana Lampion", walo harus bayar lagi Rp. 10.000,- per orang. Tempatnya bagus juga dan cukup romantis, sedikit remang dengan berbagai bentuk lampion yang menyala warna-warni. Saatnya berpose, jepret...
Makin malam makin ramai saja yang datang, walo masih jam 8 akhirnya mending pulang, belum perjalanan ke Malang masih 1 jam.
Tapi lumayan... walo kesana juga dadakan, he..

Kamis, 05 Maret 2009

Holiday to Djogdja


Jogja... Jogja... Jogja... (begitu slogan d sebuah iklan). 

6/12/08 Sepulang kerja langsung kearah terminal Bungurasih, naek bus Sumber Kencono Rp 43.000,-. Walo harus berdesakan ndari arah Surabaya yang waktu itu menjelang tanggal merah. Udara semakin pengap karena uap hujan yang merasuk dalam bus. 

Dah lama tak maen ke Jogja akhirnya sampai juga dsana tengah mlm waktu itu. Turun Janti lalu naek taxi ke daerah Malioboro. Perutpun mulai laper tapi penjual makanan mulai sepi, untung ada K-circle yg berada d pojokan Jl.Sosrowijayan Malioboro, beli mie seduh yg bisa langsung dmasak dsana,hmmm.... Sehabis kenyang langsung cari penginapan (di sekitar jn.Sosrowijayan rata2 Rp 100.000/malem) buat istirahat sejenak.

07/12/08 Hari pertama, walo agak gerimis jalan2 d malioboro mampir beli lumpia semarang buat nganjel isi perut, bolak-balik muter Malioboro hingga mentok d Mirota shopping barang etnik khas Jogja, sekaligus makan siang ma spagetty ala Mirota, nyammyyy... Sore balik ke penginapan buat istirahat. Malem naek becak ke Tugu Selamat Datang Jogja skalian nyari tiket buat pulang (tp sayang semua dah penuh). Akhirnya balik tp jalan2 dl ke mall, shopping nyari oleh2, trus nongkrong d Exelso coffee. Semakin malem jadi tambah laper, coba mencari nasi kucing. Akhirnya dapet jg nasi yg murah meriah itu pake lauk tempe ato sambel teri (1 bungkus nasi cuma Rp 1.500,-) plus minum kopi yang d campur batu arang (rasanya aneh dan puaiit tapi seru jg, he...) 

08/12/08 Hari kedua dapet sarapan pagi dari penginapan (lumayan g harus keluar uang), jalan2 lagi, kali ini muter2 malioboro, masuk pasar Bring Harjo trus jalan lagi hingga jl.Mataram, cpk...istirahat dl sambil nyari makan nasi kucing ama es teh biar hemat. Siang ini istirahat dulu buat persiapan pulang ntar sore. Jam 5 sore mulai beres2 barang dan mulai persiapan untuk pulang. Naek trans Jogja turun terminal bayar Rp 3.500,- Jam 8 malem waktu itu trus oper naek bus malem Eka Rp. 66.000,- kali ini lebih nyaman karena g terlalu banyak penumpang, AC dan dapet makan di Duta. Terlalu nyaman di kendaraan hingga tertidur lelap, tak terasa sudah sampai di terminal Bungurasih jam 1 malem. Masih terlalu malem untuk melanjutkan perjalanan, akhirnya nongkrong dulu di Twin Donat sambil pesen secangkir coklat hangat. Setelah jam 4 pagi baru cabut lagi naek bus turun depan kantor, langsung ke mess istirahat bentar. Jam 8 masuk kerja lagi..

Huh.... hari yang melelahkan, tapi begitu menyenangkan..

Selasa, 16 Desember 2008

Poster

Ini Poster buat Natal, permintaan seorang rekan kerja untuk GBT Durensewu Pandaan.


Buat Undangan n' Souvenir Natal 2007 berupa sticker



Jumat, 28 November 2008

Photo Story





Senin, 17 November 2008

Ciri fasade bangunan kolonial yang dibangun pada tahun 1914-1940 di sekitar alun-alun Malang

Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di propinsi Jawa Timur yang telah lama berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Pada zamannya, perencanaan kota Malang sering disebut sebagai salah satu hasil perencanaan kota kolonial yang terbaik di Hindia Belanda. Kota Malang yang kita huni didesain dengan konsep arsitektur kolonial, yang karena nilai estetis dan historisnya yang tinggi patut untuk dipertahankan.

Salah satu sebab mengapa warisan arsitektural dari masa itu yang berupa bangunan kolonial masih dapat dinikmati oleh masyarakat modern adalah karena kekhasan bentuk bangunannya. Para arsitek Belanda yang merancang bangunan-bangunan kolonial di Indonesia pada era 1910-an hingga 1940-an telah berhasil memadukan arsitektur Eropa, khususnya Belanda, dengan teknologi bangunan daerah tropis. Bangunan-bangunan tersebut tetap memiliki gaya Eropa, namun tetap sesuai untuk dihuni di daerah tropis.

Keunikan bangunan inilah yang membedakan bangunan kolonial Belanda dengan bangunan lainnya. Pada bangunan kolonial, terdapat berbagai ciri-ciri khusus yang menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lainnya, terutama pada fasade bangunan yang terlihat pertama kali oleh pengunjung.

Kota Malang telah dikuasai Belanda sejak tahun 1767, namun baru berkembang pesat pada awal abad ke-20. Perkembangan yang pesat dalam perencanaan perluasan kota Malang sangat dipengaruhi dari berdirinya Gemeente Malang pada 1 April 1914 dibawah pimpinan walikota pertama, H.I Bussemaker. Perencana utama perkembangan kota Malang pada masa itu adalah Ir. Herman Thomas Karsten, dengan memperhatikan aspek kenyamanan view yang berorientasi pada pemandangan gunung-gunung sekitar kota Malang.
Rencana kota Malang 1920, yang dibuat oleh Ir Thomas Kartsen, merupakan fenomena baru bagi perencanaan kota-kota di Indonesia, kaidah-kaidah perencanaan modern telah memberikan warna baru bagi bentuk tata ruang kota, seperti penggunaan pola boullevard, bentuk-bentuk simetri yang menonjol dan sangat disukai pada periode renaisance.

Pengembangan kawasan pusat kota dengan banguan bergaya Art deco, munculnya bangunan sudut seperti di perempatan PLN, dan bangunan kembar di perempatan Kayutangan serta hadirnya bangunan-bangunan bermenara menandai era baru arsitektur perkotaan di Malang. Gaya arsitektur Indische Empire yang muncul sampai akhir abad ke-19 sempat muncul di Malang. Gaya tersebut terlihat pada gedung asisten residen di dekat alun-alun kota Malang tapi sayang sekali sekarang sudah dirobohkan, bangunan kolonial yang bergaya arsitektur Indische Empire di Kota Malang saat ini bisa dikatakan sudah tidak tersisa lagi.

Bentuk dan tata ruang pusat kota yang terbentuk pada masa pemerintahan Belanda, yang lebih ditujukan bagi kepentingan politis pemerintahan belanda (mengutamakan masyarakat Belanda), ternyata telah menghasilkan bentukan morfologi kota yang cenderung meniru bentuk-bentuk arsitektur gaya Eropa seperti Art Deco, Renaisance, Baroqe dan sebagainya. Dalam konteks historis sebenarnya keberadaan bangunan peninggalan Belanda merupakan potensi (asset) yang dapat dikembangkan bagi perkembangan arsitektur kota Malang. Melalui aturan-aturan produk kolonial, ternyata telah memberikan warna pada bentukan fisik lingkungan baik gaya arsitektur maupun pola-pola tata ruang yang terbentuk.

Bentuk morfologi kawasan tercermin pada pola tata ruang, bentuk arsitektur bangunan, serta elemen-elemen fisik kota lainnya pada keseluruhan konteks perkembangan kota. Perkembangan selanjutnya, kekuatan domain ekonomi, sebagai akibat cepatnya pertumbuhan ekonomi telah membawa implikasi perubahan pada karakter dan bentuk morfologi kawasan pusat kota Malang. Disisi lain, pengendalian perkembangan kawasan pusat kota tidak memperhatikan konteks kesejarahan pembentukan kota, sehingga seperti halnya kota besar lainnya, kota Malang-pun mempunyai kecenderungan kehilangan karakter spesifiknya dan muncul karakter "ketunggalrupaan" arsitektur kota (Eko Budiardjo, 1982), sehingga kesinambungan kesejarahan kawasan seolah terputus sebagai akibat pengendalian perkembangan yang kurang memperhatikan aspek morfologis kawasan.

Menurut Handinoto (1996:68), bangunan kolonial yang terdapat di kota Malang saat ini merupakan hasil arsitektur kolonial yang dibangun pada masa sesudah tahun 1920. Gaya arsitektur kolonial modern setelah tahun 1920 di Hindia Belanda pada waktu itu sering disebut sebagai gaya “Nieuwe Bouwen” yang disesuaikan dengan iklim dan teknik bangunan di Hindia Belanda pada waktu itu. Sebagian besar menonjol dengan ciri-ciri seperti: atap datar, gewel horizontal, volume bangunan yang berbentuk kubus, serta warna cat putih.

Meskipun gaya arsitektur yang ditunjukkan masih banyak dipengaruhi gaya arsitektur Belanda, tapi pada umumnya bentuk arsitektur bangunan sudah beradaptasi dengan iklim setempat. Hal ini dapat terlihat dari bentuk denah dengan menempatkan galery keliling bangunan dengan maksud supaya sinar matahari langsung dan tampias air hujan tidak langsung masuk jendela atau pintu. Adanya atap susun dengan ventilasi atap yang baik serta overstek yang cukup panjang untuk pembayangan tembok.

Contoh bangunan kolonial Belanda adalah :
a)Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia disebelah utara alun-alun dibangun tahun 1915).
b)Palace Hotel (sekarang hotel Pelangi terletak di sebelah selatan alun-alun dibangun tahun 1916).
c)Kantor Pos dan Telegram (sekarang sudah dibongkar terletak di Jalan Basuki Rahmat dibangun antara tahun 1910-an).

Menurut Handinoto dalam buku Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda 1870-1940, bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900-an merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda yang disesuaikan dengan iklim tropis basah Indonesia. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia adalah suatu bentuk khas.

Kekhasan tersebut terletak pada :
a) Penggunaan Gewel (Gable) pada tampak depan bangunan.
Gewel adalah bagian berbentuk segitiga dari bagian akhir dinding atap dengan penutup atap yang melereng.
b) Penggunaan tower pada bangunan.
Tower adalah bangunana berstruktur tinggi, dapat berdiri sendiri maupun menjadi bagian dari bangunan dengan penerangan dan peralatan internal seperti tangga, dan atap yang jelas. Di Indonesia biasanya membuat tower yang ujungnya diberi atap menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada awal abad ke-20.
c) Penggunaan dormer pada atap bangunan
Dormer adalah jendela atau bukaan lain yang terletak pada atap yang melereng dan memiliki atap tersendiri. Bingkai dormer biasanya diletakkan vertikal diatas gording pada atap utama.

Menurut Yulianto Soemalyo (2002:52), meskipun pengaruh Eropa mendominasi bangunan-bangunan tersebut khususnya bangunan arsitektur kolonial Belanda, perlu diperhatikan bahwa aspek iklim tropis selalu dipertimbangkan dalam desain bangunan Belanda. Hal itu dapat dilihat pada atap dengan sudut kemiringan yang besar, ventilasi yang baik dan jarak antara lantai dan langit-langit yang tinggi.


Teras depan dan teras belakang yang umum ditemukan pada sebagian besar bangunan kolonial Belanda memiliki beberapa fungsi: koridor, ruang antara dari lingkungan luar dengan lingkungan dalam serta isolator panas. Teras ini juga identik dengan Peringgitan dalam rumah joglo di Jawa.

Alun-alun Kota
1.Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia, dibangun pada tahun 1915).
-Terdapat portico pada jalan masuk utama bangunan
-Bentuk bangunan utama simetris
-Badan bangunan relatif tinggi

2.Palace Hotel (sekarang Hotel Pelangi, dibangun antara tahun 1916).
-Terdapat balustrade (semacam pagar) pada atap bangunan
-Atap utama memiliki sudut kemiringan tinggi
-Bentuk bangunan simetris
-Pada awalnya bangunan ini memiliki overstek datar yang mengelilingi sepanjang fasade bangunan, namun setelah direnovasi memakai konsole miring sebagai pengganti overstek tersebut
-Dulu bangunan ini memiliki 2 buah tower yang berdiri disamping kanan dan kiri bangunan utama namun sekarang setelah bangunan ini direnovasi, kedua tower tersebut dihilangkan.
-Terdapat koridor/galeri pada fasade depan
-Bangunan utama memiliki gevel
-Badan bangunan relatif tinggi.

3.Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara
-Sudut kemiringan atap besar, sehingga atap menjadi sangat tinggi
-Terdapat tower pada salah satu sisi bangunan
-Terdapat overstek datar yang berfungsi untuk menghalangi tempias air hujan pada jendela-jendela
-Memiliki dormer/jendela pada atap di sisi samping bangunan
-Bentuk jendela panjang dan lurus
-Memiliki kolom yang menonjol keluar di setiap pertemuan dinding bangunan
-Badan bangunan relatif tinggi

4.Gereja GPIB Immanuel
-Terdapat tower pada fasade bangunan bagian tengah dengan atap berbentuk kerucut
-Terdapat gevel pada fasade bangunan
-Bentuk bangunan simetris
-Terdapat balustrade pada bagian badan menara
-Kolom-kolom menonjol dan tegas
-Atap pada bangunan utama (bukan menara) mempunyai sudut kemiringan yang besar
-Badan bangunan relatif tinggi
-Memiliki dormer/jendela pada atap di sisi samping bangunan
-Bentuk jendela dan pintu merupakan perulangan dari bentuk lengkung dengan bingkai jendela lurus dan panjang

5.Gereja Hati Kudus Yesus
-Memiliki gevel pada fasade bangunan
-Memiliki 2 buah tower pada masing-masing sisi bangunan
-Kolom-kolomnya menonjol dan tegas
-Memiliki dormer/jendela pada atap di sisi samping bangunan
-Bentuk jendela dan pintu merupakan perulangan dari bentuk lengkung dengan bingkai jendela lurus dan panjang
-Badan bangunan relatif tinggi

Alun-alun Tugu
1.Balaikota Malang
-Atap ada dua jenis, pada bagian tengah berupa atap limas yang bertumpuk, sedangkan pada bagian pinggir berupa atap perisai
-Bentuk bangunan simetris
-Memiliki kolom yang berbentuk menonjol dan tegas
-Terdapat portico pada jalan masuk utama bangunan (sekarang direnovasi dengan penambahan balkon diatasnya)
-Jendela bentuk persegi yang panjang dan lurus
-Badan bangunan relatif tinggi


2.Gedung Kodam V Brawijaya - Resimen induk
-Terdapat portico pada jalan masuk utama bangunan

3.Aula Skodam V Brawijaya
-Atap memiliki sudut yang tinggi.
-Memiliki gevel yang lebar pada fasade bangunan.
-Terdapat portico pada jalan masuk utama bangunan.
-Terdapat koridor di sekeliling depan dan samping bangunan.
-Badan bangunan yang relatif tinggi.

Dari beberapa bangunan di kota Malang khususnya di sekitar alun-alun yang masih mengunakan gaya arsitektur kolonial Belanda dapat diambil beberapa kesamaan ciri pada bangunan, antara lain:
-Penggunaan portico pada bagian utama bangunan.
Penggunaan portico dimaksudkan sebagai penghubung antara ruang dalam dengan ruang luar selain sebagai penghalang sinar matahari langsung dan tempias air hujan.
-Gevel datar.
Gevel datar digunakan sebagai ornamen-ornamen bangunan yang merupakan ciri khas bangunan kolonial. Secara konstruksi gewel berfungsi untuk penganti rangka atap.
-Penggunaan tower.
Tower difungsikan sebagai ornamen dekoratif bangunan.
-Sudut kemiringan atap yang besar.
Besarnya sudut kemiringan atap yang besar dipengaruhi oleh iklim dingin yang ada di daerah Belanda yang dimaksudkan agar salju tidak berada lama diatas atap bangunan. Tetapi sudut kemiringan yang besar di kota Malang lebih dimanfaatkan sebagai buffer yang menjaga suhu dalam bangunan.
-Kolom yang menonjol pada pertemuan dinding bangunan.
Penggunaan kolom yang menonjol digunakan untuk menimbulkan efek bayangan pada bangunan selain sebagai elemen dekoratif bangunan kolonial.
-bentuk fasade yang simetris, menyesuaikan dengan gaya bangunan yang ada pada masa itu yang pada umumnya berbentuk simetris. gaya bangunan asimetris baru berkembang setelah perang dunia ke-2.

Sebagai kota yang berkembang dari cikal bakal kota kolonial Balanda, Malang sarat akan bentukan fisik (tata lingkungan, bangunan), yang mempunyai nilai historis dan arsitektur yang dapat menjadi bukti dari tata kota dan arsitektur tertentu (masa kolonial). Oleh sebab itu, hendaknya peninggalan arsitektur kolonial di kota Malang tetap dilestarikan karena selain memiliki nilai historis yang tinggi juga dapat diangkat sebagai karakter spesifik kawasan kota Malang.

Referensi:
Akihary, H. 1988, Architectuur & Stedebouw In Indonesie 1870-1970, Amsterdam: De Walburg Pers.
Handinoto, 1996, Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940, Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Handinoto, 1996, Perkembangan Kota Malang pada Jaman Kolonial (1914-1940), Dimensi Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra, Volume 22/ Ars pp.40-78.
Wikantiyoso, R. 1999, Perencanaan dan Perancangan kota Malang, Universitas Merdeka Malang : Grup Konservasi Arsitektur dan Kota. http://www.mintakat.unmer.ac.id/edisi/4/4_1.html